Banyak teori yang berbicara tentang manusia, mulai dari peran individu mereka sampai kepada peran sosialnya di tengah-tengah masyarakat. Manusia, baik sebagai makhluk individu maupun makhluk social memiliki hak dan kewajiban yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan yang ada di sekitar mereka. Terkadang hak dan kewajiban ini saling terikat dan terkait dengan hak dan kewajiban orang lain. Di sinilah jaringan social masyarakat terjalin dan berkumpul menjadi sebuah pola tertentu. Pola ini akan berlanjut harmonis ketika antar hak dan kewajiban setiap individu memiliki keseragaman bentuk dan tujuan.
Sebagai makhluk yang memiliki akal dan budi pekerti, manusia dituntut untuk bersikap dan berjiwa moral yang tinggi. Karena moral adalah nilai utama yang dimiliki manusia yang membuatnya berbeda dengan makhluk lainnya. Potensi besar ini akan berdampak setidaknya kepada dua hal, sifat baik dan sifat buruk. Kedua sifat ini pada mulanya terdapat dalam diri manusia dengan kadar yang sama, tak berlebih atau kurang antar satu dari yang lainnya. Namun, seirng berjalannya waktu, salah satu dari kedua sifat ini akan berperan lebih dominan dari yang lainnya. Yang satu terus berubah besar dan mendominasi jiwa manusia, sementara yang lainnya tenggelam dalam diri manusia.
Dalam konteks membangun manusia peradaban, kedua sifat di atas sangat terkait satu sama lain, di mana antar satu dengan yang lain berperan saling menegasikan dan melenyapkan. Kedua sifat di atas adalah lingkup dimana malaikat dan iblis bertarung dalam diri manusia. Tentunya, untuk menjadi manusia sebagai pengemban peradaban tidak mungkin dapat dicapai jika sifat yang mendominasi jiwa manusia adalah sifat yang kedua, yaitu sifat buruk. Sifat ini bersifat destruktif dan hanhya akan membawa kepada kehancurang, baik kepada pemiliknya maupun kepada orang-orang yang berada di sekitarnya.
Untuk menjadi manusia peradaban, sifat yang harus ditonjolkan manusia adalah sifat kebaikan. Sifat yang dapat membawa banyak kebaikan dan maslahat untuk semua orang, termasuk dirinya sebagai subjek pelaku sifat itu. Namun bukan hal yang mudah untuk menjadikan sifat kebaikan mendominasi jiwa kita. Hal ini karena secara nyata manusia hidup di dunia yang segala aspek di dalamnya menampilkan hal-hal yang senantiasa mengajak jiwa manusia untuk condong kepada keburukan. Tidak mudah ketika kita harus berbuat berlawanan dengan hawa nafsu kita. Namun, ketika kita bisa melakukannya, maka ini adalah sebagai salah satu proses meninggikan derajat kita baik di hadapan tuhan ataupun manusia lainnya.
Maka untuk menjadi manusia peradaban, prinsip yang harus dipegang adalah bahwa ketika kita tidak keras kepada diri sendiri, maka dunia akan keras kepada kita, dan jika kita keras kepada diri sendiri, maka dunia akan lunak kepada kita. Semuanya akan menjadi mudah.

0 komentar:
Posting Komentar