Pages

Senin, 14 Maret 2011

Membangun Kapabilitas Organisasi Dan Mempersiapkan Regenerasi Kepemimpinan yang Lebih Baik untuk Forum Ukhuwah dan Studi Islam (FUSI) FTUI 2011

Sebuah organisasi merupakan cerminan dari komunitas social yang di dalamnya berkumpul orang-orang dengan satu tujuan bersama. Tujuan yang dimiliki oleh sebuah organisasi biasanya diejawantahkan ke dalam bentuk visi dan misi organisasi, setelah itu dirinci ke dalam bentuk rencana strategis yang hendak dicapai selama kepengurusan mendatang. Sebuah organisasi, di dalamnya tersusun beberapa bidang yang mewadahi setiap program kerja organisasi tersebut dalam melaksanakan kinerjanya selama periode kepengurusan. Dalam hal ini, setiap organisasi pasti memiliki perangkat-perangkat yang bekerja baik ke dalam struktur organisasi tersebut ataupun ke luar meliputi objek atau sasaran yang termasuk dalam lingkup kerja organisasi.

Layaknya sebuah tatanan social, sebuah organisasi juga perlu mengatur semua hal yang berkaitan dengan aktifitas kerja organisasi tersebut, manajemen perlu diterapkan di semua bidang sehingga alur kerja organisasi dapat berjalan sesuai dengan parameter yang ditetapkan dan mempu mencapai tujuan seperti yang telah ditetapkan. Bukan hanya itu, hubungan antara pengurus organisasi juga harus ditingkatkan dan dibangun dalam kondisi kekeluargaan yang erat sehingga kerjasama dapat dibangun di atas dasar kesadaran bersama. Hal-hal lain yang berperan dalam mewujudkan organisasi yang mandiri adalah dengan membiasakan budaya profesionalisme, kaderisasi baik yang dilakukan khusus untuk internal pengurus maupun untuk orang-orang yang berada di luar pengurus harian, dan tidak kalah pentingnya adalah proses regenerasi yang sangat berperan dalam mewujudkan keberlangsungan organisasi lintas periode.

Berkenaan dengan pembangunan kapabilitas organisasi, Dr. Luthfi Hasan pernah mengungkapkan bahwa value (nilai) merupakan salah satu dari pengungkit kapabilitas organisasi. Beliau kemudian menuturkan bahwa nilai yang dibangun dalam sebuah organisasi tidak hanya sampai pada tataran formalitas saja, artinya nilai yang dimiliki mampu terinternalisasi dengan baik dan menyeluruh ke dalam perangkat-perangkat organisasi yang ada. Setiap anggota seharusnya memahami akan pentingnya memiliki sense of belonging terhadap organisasi. Di sinilah peran seorang pemimpin menjadi sangat penting, dimana seorang pemimpin seharusnya menjadi teladan bagi seluruh anggota yang dipimpinnya. Keteladanan menjadi sangat penting karena berkaitan erat dengan proses pembangunan nilai yang sedang dibentuk oleh anggota organisasi.

Sebagai seorang yang baru diberi amanah sebagai General Secretary FUSI FTUI untuk periode kepengurusan 2011, saya berharap banyak dapat memberikan kontribusi yang paling nyata untuk menjadikan FUSI sebagai lembaga dakwah yang mampu bergerak secara massif dan mandiri. Sebagai lembaga dakwah, FUSI memiliki peranan yang sangat penting dan strategis dalam mewujudkan dua fungsi lembaga kemahasiswaan, yaitu fungsi pelayanan dan pembinaan. Tentu sebagai lembaga dakwah, FUSI memiliki peranan yang lebih dari hanya sebatas lembaga kemahasiswaan biasa, FUSI memiliki tanggung jawab moral dalam menentukan kultur keislaman yang ada di Fakultas Teknik. Oleh karena itu, kapasitas organisasi harus dibangun dengan baik sehingga segala aktifitas organisasi dapat terealisasi secara tepat. Selain itu, sebagai organisasi yang berkelanjutan, peran regenerasi menempati kebutuhan yang paling mendasar dalam menentukan keberlangsungan pelayanan dan pembinaan yang menjadi tujuan utama organisasi.

Hal yang pertama harus dilakukan dalam membangun kapabilitas sebuah organisasi adalah dengan membuat visi-misi organisasi secara jelas, terukur dan sesuai dengan kapasitas organisasi. Visi-misi yang dibuat haruslah berdasarkan pada dua hal, yaitu kemampuan yang dimiliki oleh organisasi tersebut dan sesuai dengan kebutuhan di mana organisasi itu berada. Kita tahu bahwa tanpa visi yang jelas, sebuah organisasi akan kehilangan arah dalam proses berjalannya organisasi tersebut. Pun juga dengan misi, visi yang telah dibuat akan cacat tanpa keberadaan misi, bagaimana sebuah visi dapat dicapai tentunya melalui proses penjabaran dan langkah-langkah yang akan dilakukan, dalam hal ini misi berperan untuk memberi gambaran secara umum apa saja yang hendak dilakukan dalam proses pencapaian visi yang ditentukan.

Setelah visi-misi terbentuk, sebuah organisasi juga harus menyiapkan sumber daya manusia yang mampu komitmen untuk bekerja selama kepengurusan. Dengan segala dinamikanya, kesolidan dan nilai-nilai kekeluargaan harus tetap dijaga sehingga mampu menciptakan kultur yang konstruktif menuju lembaga yang sinergis. Para pengurus juga harus dapat merasakan nilai-nilai yang dimiliki oleh organisasi tersebut meliputi visi-misi yang telah ditetapkan sehingga keberadaan visi-misi menjadi milik bersama dan semua pengurus memiliki rasa tanggung jawab untuk menunaikan kewajibannya demi mencapai visi-misi yang ada.

Dalam menciptakan SDM yang mumpuni, dibutuhkan proses kaderisasi yang tersusun secara sistematis, integral dan konsisten. Kaderisasi dapat diibaratkan sebagai jantung dalam tubuh organisasi yang bekerja untuk terus memompa darah semangat kerja para pengurus. Kaderisasi dibutuhkan untuk mengarahkan orientasi semua SDM yang ada kepada alur yang telah dibuat oleh organisasi itu. Di sini, setiap jenjang atau tingkatan dibuat dengan parameter yang jelas sehingga proses kaderisasi mampu berjalan dengan optimal.

Tidak lupa juga, seorang pemimpin menjadi kunci keberhasilan berjalannya organisasi tersebut. Kapabilitas yang dibangun akan bernilai nol jika tidak ditunjang oleh peran pemimpin yang siap dan mampu mengarahkan organisasi yang dipimpinnya ke arah peningkatan kapabilitas organisasi. Seorang pemimpin tentunya harus terdepan dalam memberikan keteladanan kepada semua anggotanya. Tidak hanya itu, pemimpin organisasi juga harus mampu mengetengahkan tujuan yang hendak dicapai sehingga para anggotanya dapat terus terpacu demi mencapai tujuan itu.

Dan yang terakhir adalah mengenai regenerasi kepemimpinan. Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa demi keberlanjutan sebuah organisasi, terlebih lagi jika tujuan organisasi tersebut bersifat jangka panjang, dibutuhkan proses regenerasi yang baik. Seperti kata pepatah, kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan di mana para pemimpin setelahnya mampu bekerja lebih baik dan menghasilkan pencapaian yang lebih hebat dari para pemimpin sebelumnya. Oleh karena itu, mekanisme regenerasi harus dibuat dengan matang dan berdasar pada kriteria yang harus dimiliki oleh pemimpin selanjutnya. Mekanisme yang ada dapat berupa alur kaderisasi untuk para calon qiyadah (pemimpin) yang potensial untuk memimpin organisasi selanjutnya. Alur yang dibuat disesuaikan dengan parameter tetapan yang dibuat oleh FUSI.

Pada akhirnya, organisasi yang dibangun di bawah nilai-nilai yang benar sesuai dengan kemurnian tujuan didirikannya organisasi tersebut hanya dapat dipegang oleh mereka yang berjiwa ikhlas dan totalitas. Semuanya bermuara pada satu titik di mana peran orang-orang yang ada di dalam sebuah organisasi diperhitungkan. Tanpa kerja ikhlas dan totalitas dari semua pengurus, baik ketua maupun anggota, membangun kapabilitas organisasi, termasuk di dalamnya mempersiapkan suksesi kepemimpinan hanyalah sebuah wacana kosong yang tidak dapat direalisasikan.

0 komentar: