Pages

Senin, 14 Maret 2011

Menjadi Manusia Peradaban

Banyak teori yang berbicara tentang manusia, mulai dari peran individu mereka sampai kepada peran sosialnya di tengah-tengah masyarakat. Manusia, baik sebagai makhluk individu maupun makhluk social memiliki hak dan kewajiban yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan yang ada di sekitar mereka. Terkadang hak dan kewajiban ini saling terikat dan terkait dengan hak dan kewajiban orang lain. Di sinilah jaringan social masyarakat terjalin dan berkumpul menjadi sebuah pola tertentu. Pola ini akan berlanjut harmonis ketika antar hak dan kewajiban setiap individu memiliki keseragaman bentuk dan tujuan.

Sebagai makhluk yang memiliki akal dan budi pekerti, manusia dituntut untuk bersikap dan berjiwa moral yang tinggi. Karena moral adalah nilai utama yang dimiliki manusia yang membuatnya berbeda dengan makhluk lainnya. Potensi besar ini akan berdampak setidaknya kepada dua hal, sifat baik dan sifat buruk. Kedua sifat ini pada mulanya terdapat dalam diri manusia dengan kadar yang sama, tak berlebih atau kurang antar satu dari yang lainnya. Namun, seirng berjalannya waktu, salah satu dari kedua sifat ini akan berperan lebih dominan dari yang lainnya. Yang satu terus berubah besar dan mendominasi jiwa manusia, sementara yang lainnya tenggelam dalam diri manusia.

Dalam konteks membangun manusia peradaban, kedua sifat di atas sangat terkait satu sama lain, di mana antar satu dengan yang lain berperan saling menegasikan dan melenyapkan. Kedua sifat di atas adalah lingkup dimana malaikat dan iblis bertarung dalam diri manusia. Tentunya, untuk menjadi manusia sebagai pengemban peradaban tidak mungkin dapat dicapai jika sifat yang mendominasi jiwa manusia adalah sifat yang kedua, yaitu sifat buruk. Sifat ini bersifat destruktif dan hanhya akan membawa kepada kehancurang, baik kepada pemiliknya maupun kepada orang-orang yang berada di sekitarnya.

Untuk menjadi manusia peradaban, sifat yang harus ditonjolkan manusia adalah sifat kebaikan. Sifat yang dapat membawa banyak kebaikan dan maslahat untuk semua orang, termasuk dirinya sebagai subjek pelaku sifat itu. Namun bukan hal yang mudah untuk menjadikan sifat kebaikan mendominasi jiwa kita. Hal ini karena secara nyata manusia hidup di dunia yang segala aspek di dalamnya menampilkan hal-hal yang senantiasa mengajak jiwa manusia untuk condong kepada keburukan. Tidak mudah ketika kita harus berbuat berlawanan dengan hawa nafsu kita. Namun, ketika kita bisa melakukannya, maka ini adalah sebagai salah satu proses meninggikan derajat kita baik di hadapan tuhan ataupun manusia lainnya.

Maka untuk menjadi manusia peradaban, prinsip yang harus dipegang adalah bahwa ketika kita tidak keras kepada diri sendiri, maka dunia akan keras kepada kita, dan jika kita keras kepada diri sendiri, maka dunia akan lunak kepada kita. Semuanya akan menjadi mudah.

Membangun Kapabilitas Organisasi Dan Mempersiapkan Regenerasi Kepemimpinan yang Lebih Baik untuk Forum Ukhuwah dan Studi Islam (FUSI) FTUI 2011

Sebuah organisasi merupakan cerminan dari komunitas social yang di dalamnya berkumpul orang-orang dengan satu tujuan bersama. Tujuan yang dimiliki oleh sebuah organisasi biasanya diejawantahkan ke dalam bentuk visi dan misi organisasi, setelah itu dirinci ke dalam bentuk rencana strategis yang hendak dicapai selama kepengurusan mendatang. Sebuah organisasi, di dalamnya tersusun beberapa bidang yang mewadahi setiap program kerja organisasi tersebut dalam melaksanakan kinerjanya selama periode kepengurusan. Dalam hal ini, setiap organisasi pasti memiliki perangkat-perangkat yang bekerja baik ke dalam struktur organisasi tersebut ataupun ke luar meliputi objek atau sasaran yang termasuk dalam lingkup kerja organisasi.

Layaknya sebuah tatanan social, sebuah organisasi juga perlu mengatur semua hal yang berkaitan dengan aktifitas kerja organisasi tersebut, manajemen perlu diterapkan di semua bidang sehingga alur kerja organisasi dapat berjalan sesuai dengan parameter yang ditetapkan dan mempu mencapai tujuan seperti yang telah ditetapkan. Bukan hanya itu, hubungan antara pengurus organisasi juga harus ditingkatkan dan dibangun dalam kondisi kekeluargaan yang erat sehingga kerjasama dapat dibangun di atas dasar kesadaran bersama. Hal-hal lain yang berperan dalam mewujudkan organisasi yang mandiri adalah dengan membiasakan budaya profesionalisme, kaderisasi baik yang dilakukan khusus untuk internal pengurus maupun untuk orang-orang yang berada di luar pengurus harian, dan tidak kalah pentingnya adalah proses regenerasi yang sangat berperan dalam mewujudkan keberlangsungan organisasi lintas periode.

Berkenaan dengan pembangunan kapabilitas organisasi, Dr. Luthfi Hasan pernah mengungkapkan bahwa value (nilai) merupakan salah satu dari pengungkit kapabilitas organisasi. Beliau kemudian menuturkan bahwa nilai yang dibangun dalam sebuah organisasi tidak hanya sampai pada tataran formalitas saja, artinya nilai yang dimiliki mampu terinternalisasi dengan baik dan menyeluruh ke dalam perangkat-perangkat organisasi yang ada. Setiap anggota seharusnya memahami akan pentingnya memiliki sense of belonging terhadap organisasi. Di sinilah peran seorang pemimpin menjadi sangat penting, dimana seorang pemimpin seharusnya menjadi teladan bagi seluruh anggota yang dipimpinnya. Keteladanan menjadi sangat penting karena berkaitan erat dengan proses pembangunan nilai yang sedang dibentuk oleh anggota organisasi.

Sebagai seorang yang baru diberi amanah sebagai General Secretary FUSI FTUI untuk periode kepengurusan 2011, saya berharap banyak dapat memberikan kontribusi yang paling nyata untuk menjadikan FUSI sebagai lembaga dakwah yang mampu bergerak secara massif dan mandiri. Sebagai lembaga dakwah, FUSI memiliki peranan yang sangat penting dan strategis dalam mewujudkan dua fungsi lembaga kemahasiswaan, yaitu fungsi pelayanan dan pembinaan. Tentu sebagai lembaga dakwah, FUSI memiliki peranan yang lebih dari hanya sebatas lembaga kemahasiswaan biasa, FUSI memiliki tanggung jawab moral dalam menentukan kultur keislaman yang ada di Fakultas Teknik. Oleh karena itu, kapasitas organisasi harus dibangun dengan baik sehingga segala aktifitas organisasi dapat terealisasi secara tepat. Selain itu, sebagai organisasi yang berkelanjutan, peran regenerasi menempati kebutuhan yang paling mendasar dalam menentukan keberlangsungan pelayanan dan pembinaan yang menjadi tujuan utama organisasi.

Hal yang pertama harus dilakukan dalam membangun kapabilitas sebuah organisasi adalah dengan membuat visi-misi organisasi secara jelas, terukur dan sesuai dengan kapasitas organisasi. Visi-misi yang dibuat haruslah berdasarkan pada dua hal, yaitu kemampuan yang dimiliki oleh organisasi tersebut dan sesuai dengan kebutuhan di mana organisasi itu berada. Kita tahu bahwa tanpa visi yang jelas, sebuah organisasi akan kehilangan arah dalam proses berjalannya organisasi tersebut. Pun juga dengan misi, visi yang telah dibuat akan cacat tanpa keberadaan misi, bagaimana sebuah visi dapat dicapai tentunya melalui proses penjabaran dan langkah-langkah yang akan dilakukan, dalam hal ini misi berperan untuk memberi gambaran secara umum apa saja yang hendak dilakukan dalam proses pencapaian visi yang ditentukan.

Setelah visi-misi terbentuk, sebuah organisasi juga harus menyiapkan sumber daya manusia yang mampu komitmen untuk bekerja selama kepengurusan. Dengan segala dinamikanya, kesolidan dan nilai-nilai kekeluargaan harus tetap dijaga sehingga mampu menciptakan kultur yang konstruktif menuju lembaga yang sinergis. Para pengurus juga harus dapat merasakan nilai-nilai yang dimiliki oleh organisasi tersebut meliputi visi-misi yang telah ditetapkan sehingga keberadaan visi-misi menjadi milik bersama dan semua pengurus memiliki rasa tanggung jawab untuk menunaikan kewajibannya demi mencapai visi-misi yang ada.

Dalam menciptakan SDM yang mumpuni, dibutuhkan proses kaderisasi yang tersusun secara sistematis, integral dan konsisten. Kaderisasi dapat diibaratkan sebagai jantung dalam tubuh organisasi yang bekerja untuk terus memompa darah semangat kerja para pengurus. Kaderisasi dibutuhkan untuk mengarahkan orientasi semua SDM yang ada kepada alur yang telah dibuat oleh organisasi itu. Di sini, setiap jenjang atau tingkatan dibuat dengan parameter yang jelas sehingga proses kaderisasi mampu berjalan dengan optimal.

Tidak lupa juga, seorang pemimpin menjadi kunci keberhasilan berjalannya organisasi tersebut. Kapabilitas yang dibangun akan bernilai nol jika tidak ditunjang oleh peran pemimpin yang siap dan mampu mengarahkan organisasi yang dipimpinnya ke arah peningkatan kapabilitas organisasi. Seorang pemimpin tentunya harus terdepan dalam memberikan keteladanan kepada semua anggotanya. Tidak hanya itu, pemimpin organisasi juga harus mampu mengetengahkan tujuan yang hendak dicapai sehingga para anggotanya dapat terus terpacu demi mencapai tujuan itu.

Dan yang terakhir adalah mengenai regenerasi kepemimpinan. Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa demi keberlanjutan sebuah organisasi, terlebih lagi jika tujuan organisasi tersebut bersifat jangka panjang, dibutuhkan proses regenerasi yang baik. Seperti kata pepatah, kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan di mana para pemimpin setelahnya mampu bekerja lebih baik dan menghasilkan pencapaian yang lebih hebat dari para pemimpin sebelumnya. Oleh karena itu, mekanisme regenerasi harus dibuat dengan matang dan berdasar pada kriteria yang harus dimiliki oleh pemimpin selanjutnya. Mekanisme yang ada dapat berupa alur kaderisasi untuk para calon qiyadah (pemimpin) yang potensial untuk memimpin organisasi selanjutnya. Alur yang dibuat disesuaikan dengan parameter tetapan yang dibuat oleh FUSI.

Pada akhirnya, organisasi yang dibangun di bawah nilai-nilai yang benar sesuai dengan kemurnian tujuan didirikannya organisasi tersebut hanya dapat dipegang oleh mereka yang berjiwa ikhlas dan totalitas. Semuanya bermuara pada satu titik di mana peran orang-orang yang ada di dalam sebuah organisasi diperhitungkan. Tanpa kerja ikhlas dan totalitas dari semua pengurus, baik ketua maupun anggota, membangun kapabilitas organisasi, termasuk di dalamnya mempersiapkan suksesi kepemimpinan hanyalah sebuah wacana kosong yang tidak dapat direalisasikan.

Mengendalikan Harga Sembako

Permasalahan sosial di Indonesia tampaknya tidak akan pernah kunjung selesai. Selalu saja ada subyek baru yang menjadi bahan perbincangan untuk mengambinghitamkan pemerintah yang tidak kompeten dalam mengurusi rakyatnya. Mulai dari pendidikan yang mahal dan tidak menguntungkan rakyat kecil, kemiskinan yang sudah menjadi masalah klasik dan tidak pernah didapati penyelesaiannya. Semuanya bertumpu pada kondisi sosial masyarakat Indonesia.

Salah satu permasalahan yang sering mencekik rakyat, terlebih lagi rakyat kelas bawah, adalah kelangkaan sembilan bahan pokok makanan (sembako). Beberapa waktu lalu, harga sembako melonjak cukup tinggi. Untuk harga beras saja, kenaikannya mencapai Rp 1.000,- per kilogram untuk jenis beras paling bagus. Harga yang semula Rp 6.300, kemudian naik menjadi Rp 7.300. Tentu hal ini sangat memberatkan bagi mayoritas warga yang notabene adalah rakyat menengah ke bawah.

Kenaikan harga sembako sebenarnya dipengaruhi oleh kenaikan harga beberapa tarif lain, seperti harga tarif listrik, transportasi dan lainnya. Kenaikan harga ini sangat berdampak pada pola hidup masyarakat. Khususnya bagi mereka yang memiliki tingkat penghasilan rata-rata atau minus. Kondisi ini benarbenar menjerat mereka. Sebagian pengamat menyebut, kondisi seperti ini adalah proses pemiskinan massal secara perlahan terhadap rakyat. Ironis memang, Indonesia yang terkenal sebagai negara yang memiliki sumber daya alam melimpah, potensi kepemilikan bahan makanan pokok yang bisa selalu ada setiap saat. Kenyataan mengatakan lain, Indonesia justru termasuk sebagai negara penyumbang kemiskinan yang berdampak pada kematian warganya.

Tentu ada hal-hal yang tidak berjalan sesuai dengan porsinya ketika apa
yang seharusnya diperoleh bertolak belakang dengan kenyataan yang diterima. Ada sistem yang perlu dibenahi dan dikaji lebih dalam untuk kemudian dijadikan sebagai solusi atas permasalahan yang berkepanjangan ini.

Pemerintah telah berusaha keras untuk mencukupi kebutuhan pokok dan mengendalikan harga di pasar. Permasalahan tak bias dibiarkan berkepanjangan tanpa ada tekad kuat untuk memperbaiki sistem yang ada. Pemerintah telah mulai memikirkan teknis penyelesaian dan memaksimalkan semua SDM yang kompeten dalam bidangnya untuk ikut serta membantu memberikan ide dan turut aktif langsung ke lapangan. Di antara program yang bisa dijadikan solusi adalah bantuan pemerintah untuk warga berupa peminjaman atau pemberian modal untuk mulai merintis usaha kecil. Pemerintah dan masyarakat sama-sama berperan aktif. Masyarakat mulai membangun kemandirian untuk bisa survive dalam menjalani hidupnya.

Masyarakat semestinya secara kreatif memikirkan jenis usaha yang sebisa mungkin dilakukan, kemudian setelah itu menyerahkan kepada pemerintah setempat untuk menindaklanjuti niat baik itu dengan diberikannya kemudahan berupa pinjaman modal. Namun, dalam pelaksanaannya, pemerintah juga harus mengawasi segala kebijakan yang hendak diputuskan. Kebijakan kenaikan harga dilakukan tidak secara semena-mena, tanpa mempertimbangkan kondisi rakyat kecil yang akan menjadi subyek pertama yang terkena dampak itu. Pemerintah harus menekan sekecil mungkin harga-harga yang bergulir di pasaran hingga mencapai harga yang benar-benar dapat terjangkau khususnya oleh kalangan bawah. Bersamaan dengan itu, juga perlu dilakukan peningkatan daya beli dan pendapatan masyarakat. Hal ini tentunya akan berdampak pada kondisi keuangan negara. Oleh karena itu, kita sebagai bangsa yang kaya akan sumber daya alam harus mulai membiasakan diri bersikap mandiri dalam pengelolaan kekayaan alam yang kita miliki.

Membentuk Kemandirian Indonesia Melalui Kemajuan Teknologi Informasi

Tidak dapat kita pungkiri bahwa dunia kini sedang bergerak dengan kecepatan yang tidak pernah terbayangkan pada masa-masa sebelumnya di waktu lampau. Saat ini, kita bisa dengan mudah menerima berbagai informasi yang ada di belahan bumi lain hanya dalam waktu sepersekian detik, segala kemajuan di bidang teknologi telah mengantarkan manusia pada tingkat dimana segala kebutuhan dapat dipenuhi hanya dengan duduk santai sembari melihat ke dalam monitor computer.

Teknologi informasi seakan merebak bagai virus yang sulit dikendalikan persebarannya. Jika dulu kita hanya mendapati personal computer hanya dimiliki oleh perusahaan-perusahaan, maka sekarang keberadaannya telah sampai ke dalam rumah-rumah, bahkan dalam setiap kamar terdapat satu personal computer. Kemajuan yang pesat ini akan semakin merajalela karena keberadaan teknologi informasi tidak akan pernah terhapus dari pola kebutuhan manusia, bahkan grafiknya meningkat dari waktu ke waktu.

Terlebih lagi Indonesia, negara dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa ini merupakan pasar yang sangat besar dan menguntungkan bagi industry teknologi informasi. Segala jenis hasil industry dari luar negeri bisa kita temukan di negeri ini, mulai dari produk buatan Jepang, Korea, Cina hingga Amerika berjejalan dan melimpah ruah berada di setiap toko elektronik di Indonesia.

Kenyataan ini menyadarkan kita akan budaya konsumtif yang dimiliki oleh bangsa ini. Namun sangat disayangkan karena budaya konsumtif sebagian besar warga tidak diimbangi dengan asupan produk dalam negeri sehingga yang terjadi kemudian adalah melimpahnya arus pendapatan yang mengalir ke luar negeri, sementara negeri kita sendiri masih berkutat mempermasalahkan tingkat pendapatan yang kurang bahkan devisit.

Perlu ada langkah strategis yang dilakukan pemerintah dalam menindaklanjuti potensi besar ini. Kesadaran akan tingginya kebutuhan terhadap penggunaan teknologi informasi harus diimbangi dengan kemandirian bangsa dalam mengelola segala sumber yang ada. Maka yang harus dilakukan oleh bangsa ini adalah memulai untuk berani tampil sebagai Negara yang berani menyuplai segala kebutuhan sendiri. Karena kalau kita mau berhitung, besar manfaat yang akan diperoleh oleh bangsa Indonesia, jika sedikitnya 20% saja dari barang impor yang ada kita alihkan untuk pemenuhan barang-barang pribumi, artinya 20% dari bermilyar-milyar rupiah yang akan masuk dan bergulir di dalam Negara secara terus-menerus.