saya jadi berfikir, betapa hebatnya diri saya, begitu juga anda yang saat ini sedang menghirup udara bahwa kita telah dilahirkan ke dunia. kita lah yang Allah pilih untuk berhasil mencapai sel telur ibu kita dahulu. kita lah yang sukses mengalahkan ratusan ribu bibit-bibit manusia seperti kita saat ini. dan begitulah Allah menciptakan kita, dimulai dengan kompetisi, perjuangan, pegorbanan dan terus berfokus pada apa yang kita tuju.
sejatinya manusia diciptakan dengan kesempurnaan dan penuh keajaiban. tidak ada cela dan kurang. semuanya di desain dengan cermat dan proporsional. jika kemudian ada orang yang merasa kurang dengan kekurangannya, maka itu hanyalah pikiran kita. hanya kita yang merasa demikian, padahal yang sebenarnya adalah sebaliknya, kita diciptakan dengan penuh kesempurnaan. syukiur dariku untukmu Allah...
tapi demikianlah kehidupan mengajarkan kita. bukan hal yang mudah untuk menjaga agar semangat perjuangan kita dahulu ketika berada di rahim ibu bisa selalu bertahan lama. terkadang hidup mengajarkan kita untuk menjadi seorang pecundang, terkadang hidup mengajarkan kita untuk menjadi lelah dan lemah, dan tak jarang kehidupan justru mengajarkan kita untuk memilih mati saja. ironis memang jika kehidupan malah mengajarkan kita untuk mati sementara ia sendiri adalah bentuk wujud kehidupan. tapi memang demikian adanya setidaknya untuk beberapa orang yang merasa hidupnya hanyalah penderitaan.
tapi tidak selamanya kehidupan mengajarkan hal-hal mengerikan seperti di atas. kehidupan malah bisa menjadi ladang yang siap untuk kita tanami dengan berbagai tanaman yang berharga dan bernilai tinggi. kita tinggal menanamnya dan kemudian merawatnya dengan teliti dan sabar hingga menjadi kebun yang subur dan sejuk dipandang mata. sebenarnya terserah kita mau melakukan apa saja pada kehidupan kita, yang jelas kita harus siap menanggung apa yang kita perbuat sekarang. dari sini mungkin saya bisa menyimpulkan bahwa orang yang hidupnya saat ini 'sia-sia' adalah orang yang siap menanggung resikonya nanti, atau mungkin karena mereka begitu bodoh sampai-sampai rasio mereka tidak berfungsi sempurna ketika bersinggungan dengan nafsu yang bergolak membentuk amplitudo sangat ekstrim.
entahlah, setiap orang punya alasannya masing-masing. setiap orang dibekali dengan sifat fujur (berbuat jahat) dan takwa (kebaikan). tinggal kita yang pintar-pintar memilih mau mendominankan dan menekan yang mana. apa yang kita anggap baik dan buruk harus sejalan dengan nurani kita. sekali kita membohongi nurani kita sendiri, maka samar-samar lah yang akan kita lihat. kita menjadi ragu untuk menentukan mana yang benar dan salah, mana yang harus dipilih dan mana yang harus ditinggalkan. keraguan itu muncul begitu kuat ketika kita banyak membohongi diri sendiri. mencampakkan akal sehat kita hanya untuk nafsu yang menjerumuskan.
siapakah kita kalau bukan hamba. hamba yang berarti harus tunduk pada setiap perintah dan larangan tuhan yang kita sembah.. dialah Allah, Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

0 komentar:
Posting Komentar