Saudariku, begitu lemahkah hatimu sehingga kau mau mengikuti jejak langkah setan yang membawamu ke dalam kehinaan. Begitu lemahkah imanmu sehingga kau gadaikan “izzahmu” sebagai seorang wanita muslimah. Kemanakah rasa malu yang dulu kau miliki sehingga saat ini aku tak melihatnya selain tirai samar yang kau sembunyikan. Dimanakah letak hijab kau definisikan sehingga kau keliru menggunakannya.
Sungguh sebagai saudaramu aku sangat kecewa dengan pilihanmu yang jelas-jelas kau tahu sendiri bahwa itu keliru. Kekecewaanku bukan berarti aku tidak mau menjadi saudaramu lagi, bukan berarti aku menjadi jijik dan ingin pergi menjauh darimu. Sungguh aku sangat berharap kau kembali ke jalan yang kau pilih dahulu, jalan para wanita solehah yang senantiasa menjaga kehormatannya sebagai mutiara yang agung dan tak tersentuh, engkaulah yang menjadi pujaan para mukminin sholeh karena engkau adalah bidadari yang mereka cari.
Saudariku, letak kemuliaanmu bukanlah pada pakaian yang kau gunakan. Letak kecantikanmu bukanlah seberapa tebal kau menggunakan riasan di wajahmu. Letak keindahanmu bukanlah dari suaramu yang merdu yang terkadang membuat para hati lelaki menjadi tak menentu. Sesungguhnya engkaulah makhluk terindah yang Allah ciptakan. Tapi apakah engkau tahu bagaimana engkau bisa mensyukuri pemberian itu sehingga kau pun dapat melihat wujudmu yang indah itu. Sesungguhnya keindahan yang kau lihat saat ini semu. Jasad yang kau miliki saat ini akan membusuk dan bau. Masihkah engkau tidak mengerti bahwa semua yang bernyawa akan mati dan menjadi bangkai. Begitupun fisik yang engkau miliki saat ini. Jangan terlena saudariku... tubuhmu itu akan menjadi tanggung jawabmu kelak ketika bertemu dengan Allah di akhirat sana.
Sesungguhnya keindahanmu terletak pada hatimu yang kau jaga setiap waktu. Letak kecantikanmu terletak pada wajahmu yang senantiasa berwudlu dan menangis menyesali kesalahanmu. Keindahanmu tergambar pada suara yang selalu kau getarkan untuk membaca Al-Qur’an. Maka tetaplah menjadi wanita yang solehah, karena itulah yang menjadi kemuliaan seorang wanita. Tetaplah engkau menjaga pandangan dan suaramu, karena dengan begitu aku bisa tentram dan tetap bangga terhadapmu. Tetaplah istiqomah dan menjadikan Allah sebagai cinta tertinggimu, karena dengan begitu aku akan selalu mengambil pelajaran dari sikap tulusmu.
Saudariku, aku menulis ini hanya teringat sebuah ayat dalam surat Al-’Asr. Bahwa mereka yang beruntung adalah yang senantiasa saling memberi nasihat dalam kebenaran dan kesabaran. Maka semoga catatan kecil ini bisa menjadi manifestasi diriku untuk dapat mengamalkan apa yang Allah firmankan. Aku tidak bermaksud menjadi congkak karena telah mensihatimu karena diriku pun tidak lebih baik darimu. Aku berlindung kepada Allah dari menjadi orang yang sangat dibenci oleh Allah karena mengatakan apa yang tidak aku lakukan sesuai firmannya dalam qur’an surat Ash-Shof.
Aku hanya berharap semoga Allah menjadikan kita dan saudara-saudara kita yang lain termasuk orang-orang yang dimulikan-Nya.
Depok, 28 Juni 2010
17.53 WIB
